RSUD Sibuhuan Peras Pasien

Video Bentrok RSUD Sibuhuan

 

BintangEmpat.com, Sumatera Utara – Masyarakat sering mengeluh kepada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sibuhuan, mulai dari pelayanannya yang buruk dan banyaknya pungutan liar (pungli), bahkan honor para pegawai RSUD tersebut disikat juga oleh pimpinan RS tersebut.

Mara Nahum (50), mayat yang malang, hampir menjadi korban pemerasan Rsud Sibuhuan.

Seperti yang dialami GT Halomoan Daulay, asisten I di jajaran Pemerintahan Kabupaten Padang Lawas, sempat mengamuk di RSUD Sibuhuan dan bersitegang dengan Kasir RSUD Sibuhuan terkait pembayaran biaya berobat seorang pasien laka lantas pada Kamis 13 juni 2019.

Mara Nahum (50) asal Desa Ujung Batu Kecamatan Sosa, Kabupaten Padang Lawas adalah korban Laka lantas yang mengalami pendarahan serius, Mara Nahum dilarikn Ke Puskesmas Ujung Batu, kemudian dirujuk ke RSUD Sibuhuan pada kamis 13 juni 2019. Pukul 09.50 WIB.

Dalam waktu setengah jam nyawa korban tidak terselmatkan dan meninggal dunia. Mengetahui korban meninggal dunia pihak keluarga meminta pihak RSUD mempersiapkan administrasi agar Pasien bisa dibawa pulang.

Lalu kasir meminta keluarga korban membayar Rp1.500.000, untuk biaya perawatan si korban.

Mendegar jumlah uang tersebut pihak keluarga korban terkejut dan mempertanyakannya kepada Kasir RSUD.

Keluarga Korban GT Halomoan Daulay menjelaskan pada awak media,
“Saya tanya ke kasir berapa biayanya,” kata GT Hamonangan Daulay.
“Biayanya satu juta lima ratus ribu pak,” kata GT Daulay menirukan ucapan kasir rumah sakit tersebut.
“kok besar kali biayanya kan hanya sebentar, ya sudah gak apa-apa, saya bayar biayanya tolonglah dibuatkan kuitansinya,” pinta Asisten I.

Oleh kasir menolak membuat kuitansinya.
” Kalau kuitansinya gak ada pak, ” kata si kasir. ” Loh, kenapa tidak ada kuitansinya, ini kan rumah sakit pemerintah, kemana nanti uangnya dibuat. Ini kan biaya resmi pemasukan untuk daerah,” tanya GT Hamonangan Daulay lagi kepada kasir.

Oleh kasir tetap bertahan tidak mau membuatkan kuitansinya.

Sementara mayat masih tertahan belum juga diurus karena belum ada kuitansi bukti pembayaran dari kasir.
Karena terus bersitegang dengan kasir, GT Hamonangan Daulay pun akhirnya menelpon direktur rumah sakit. ” Saya telepon direktur beberapa kali tidak diangkat, mayat sudah mau membusuk belum juga ditangani. Kerjaan apa ini, pelayanan apa namanya ini rumah sakit. Ini bukan rumah sakit abal-abal,” kata GT Daulay dengan nada tinggi.

Karena teleponnya tidak diangkat direktur rumah sakit, Asisten I kemudian menelepon Ali selaku ajudan Bupati Palas.
“Saya telepon si Ali , disambungkannya langsung ke pak bupati, oleh pak bupati bilang supaya digratiskan saja, apalagi korban adalah pasien BPJS dan belum sempat ada obat-obatan masuk ke tubuh korban,” jelas Daulay.

Setelah Asisten I mengamuk, akhirnya kasir pun mulai berubah dan baru mau membuat kuitansi. Semula diminta membayar Rp, 1.500.000 akhirnya dibayar Rp.178.000.

Setelah pihak keluarga menyelesaikan pembayaran barulah mayat korban bisa dibawa pulang, setelah tertahan lebih 2 Jam.

*(Leo / Mn)

B4

Media Investigasi Hukum Dan Kriminal, Terpercaya Dan Berimbang

Tinggalkan Balasan

Enable Notifications.    Ok No thanks
Hak Cipta © 2020 BintangEmpat.Com. Diterbitkan Oleh: PT. Raja Pos Intermedia