Posisi Strategis Menhan Prabowo Subianto

Awas! Ada Bungker Jenderal Di Kemenhan, Prabowo “Kadali” Jokowi

Ditulis oleh: Asaaro Lahagu

Posisi Prabowo sebagai Menteri Pertahanan sangat strategis. Sebagai Menhan, Prabowo bisa menggantikan Jokowi sebagai Presiden dalam kondisi tertentu. Menhan adalah satu dari tiga menteri yang disebut dalam konstitusi Indonesia.

Dalam pasal 8 ayat 3 UUD 1945 dijelaskan bahwa jika Presiden dan Wakil Presiden mangkat, berhenti, diberhentikan atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya secara bersamaan, maka pelaksanaan tugas Kepresidenan adalah Menteri Luar Negeri, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pertahanan secara bersama-sama.

Di antara tiga menteri sekarang ini Menteri Retno, Menteri Tito, Prabowolah yang lebih berpotensi menggantikan langsung Jokowi. Alasannya pendukung Prabowo yang 45 persen di Pilpres itu langsung bulat mendukung Prabowo. Lalu siapa pendukung Menteri Retno dan Menteri Tito jika diplot menggantikan Jokowi? Secara riil belum ada.

Saat Jokowi mengambil Prabowo sebagai Menhan, publik terkejut. Mengapa Jokowi merekrut lawan politiknya masuk ke dalam kandangnya? Bukankah Prabowo berpotensi menjadi Brutus di belakang Jokowi? Alasan Jokowi demi rekonsiliasi politik, memang masuk akal dan dapat diterima. Namun dalam dunia politik, merekrut lawan menjadi teman, tetaplah berbahaya.

Klik ucapan selamat tahun baru 2020

Kekalahan Prabowo dua kali atas Jokowi pasti meninggalkan dendam membara terutama dari para pengikut Prabowo. Namanya manusia. Dendam karena kalah itu sulit dihapus. Prabowo yang selalu bermimpi menjadi Presiden (ingat Presiden Kertanegara), siang malam akan membuat hitung-hitungan ala insting jenderal di Kemenhan dengan digaji untuk membalas kekalahannya atas Jokowi.

Saat ini Probowo-Gerindra terus menjadikan Kemenhan menjadi bungkernya. Para mantan jenderal dan tukang hoax selama Pilpres, semakin banyak berkumpul di sana. Total ada 5 jenderal purnawirawan yang ditunjuk Prabowo sebagai asisten khusus. Mereka adalah Letjen TNI (Purn) Sjafire Sjamsoeddin, Letjen TNI (Purn) Hotmangaradja Pandjaitan, Laksdya TNI (Purn) Didit Herdiawan, Mayjen TNI (Purn) Chairawan Kadasyah Kadirussalam Nusyirwan dan Masrda TNI (Purn) Bonar H Hutagol.

Selain kelima jenderal di atas, Prabowo juga telah menunjuk salah satu sahabatnya Jenderal Johanes Surya Prabowo dan Said Didu sebagai pembantunya di Komite Kebijakan Industri Pertahanan. Apakah Prabowo ke depan memasukkan Neno Warisman, Sudirman Said, Ahmad Dhani, Natanalius Pigai, Tengku Zulkarnaen membantunya lagi di Kemenhan? Hanya Prabowo yang tahu.

Hal yang perlu diawasi adalah sepak terjang Prabowo di Kemenhan. Ketika Prabowo sudah masuk di Kemenhan, maka ia paham update kekuatan internal pendukung Jokowi. Dengan alasan mengecek penggunaan anggaran 127 Triliun, Prabowo bisa mengecek semua kekuatan personil TNI berikut persenjataannya.

Prabowo juga dengan cerdas bisa membentuk komponen kekuatan cadangan yang sewaktu-waktu bisa digunakan. Komponen cadangan ini akan mengandalkan kekuatan rakyat. Lewat anggaran 127 triliun, Prabowo bisa memanfaatkan mengkonsolidasi kekuatannya dengan kedok pertahanan.

Sebagai Menteri Pertahanan, ungkapan Prabowo yang menyebut penganut ideologi komunis masih eksis di Indonesia November 2019 lalu, sangat aneh. Apakah Prabowo membentuk kekuatan cadangan dengan menjadikan PKI sebagai alasan? Kalau begitu Prabowo tidak jauh berbeda dengan Mayjen Kivlan Zein yang menyebarkan hoax bahwa ada 15 juta anggota PKI dan siap melakukan gerakan makar di Indonesia. Padahal keberadaan PKI sudah tamat sejak ditetapkan sebagai partai terlarang di Indonesia lewat TAP MPR 1966.

Posisi Prabowo memang pembantu alias menteri Jokowi. Jokowi mempunyai hak prerogative untuk memecat Prabowo jika dianggap Jokowi berbahaya. Namun bukan di situ bahayanya. Berkaca pada penusukan Wiranto, maka bukanlah hal yang mustahil jika suatu hari Jokowi mengalami hal yang sama.

Jika pengawalannya abai, lemah dan kendor, bukan tidak mungkin Jokowi akan mengalami nasib naas seperti Wiranto di periode keduanya. Pada saat itulah Prabowo siap masuk. Sementara itu sosok pendukung Jokowi yang lain sudah pasti kalah posisi dibanding dengan Prabowo.

Benar bahwa ada Wapres Amin Ma’aruf. Namun melihat situasi kesehatan Wapres yang kurang mendukung, maka Amin Ma’aruf tak bisa diandalkan untuk menggantikan Jokowi. Ia bisa saja diframing tak bisa atau tak mampu menggantikan Jokowi sebagai Presiden.

Lalu apa yang sesuatu yang terjadi kepada Jokowi? Tentu saja tak seorang pun yang tahu. Namun melihat banyak yang nyinyir dan tak ikhlas menerima Jokowi sebagai Presiden, maka ada banyak musuh-musuhnya yang setiap saat saat siap mencelakai Jokowi jika ada kesempatan. Skenario mencelakai atau menghentikan Jokowi sudah pasti terus diotak-atik oleh musuh-musuhnya.

Situasi inilah yang tentu akan dibaca juga oleh Prabowo. Itulah sebabnya jauh-jauh hari, ia sudah mengumpulkan para eks jenderal pendukungnya mulai bercokol di Kemenhan. Prabowo dan kader Gerindranya terlihat mulai menjadikan Kemenhan sebagai bungker mereka. Di sanalah dibuat prediksi dan skenario militer masa depan Jokowi.

Sebagai warga biasa, saya melihat bahwa Prabowo mulai mengkadali secara halus dan elegan Jokowi. Lewat Keputusan Menhan, Prabowo terus mengangkat para pembenci Jokowi dan para jenderal garang selama Pilpres dan bercokol di Kemenhan.

Disanalah mereka menyusun taktik sambil menikmati gaji dari anggaran Kemenhan 127 triliun itu secara sah dengan kedok membantu Prabowo.

Posisi Strategis Menhan Prabowo Subianto

Apakah Jokowi berani memecat Prabowo? Tidak mudah. Selain akan membuat gaduh dan heboh seketika, tanpa alasan yang kuat Jokowi tidak akan berani mereshuffle Prabowo. Untuk sementara Jokowi dan para pendukungnya hanya bisa wait and see sambil mengawasi dengan penuh kewaspadaan aksi ‘bungker’ Prabowo di Kemenhan. Begitulah kura-kura.

Salam Seword, Asaaro Lahagu. *

BintangEmpat .Com

Media Investigasi Hukum Dan Kriminal, Terpercaya Dan Berimbang