Antara Ibadah Haji Dan Corona

Foto: dari kiri Ustad Noto Roso, Ustad Novel Bamukmin dan Habib Shahab Anggawi.

Ditulis oleh: Ustad Novel Bamukmin.

Memang sangat dilema pelaksanaan haji tahun ini disatu sisi adalah rukun islam bagi yang mampu untuk melaksanakannya, disatu sisi lagi adalah faktor keamanan yang menyangkut nyawa, karena kalau dipaksakan bisa jadi penyebaran paling terbesar di dunia karena jamaah haji bisa 2 – 3 juta setiap tahunnya dengan kondisi tanpa virus saja sudah banyak jamaah yang lemah fisik dan juga terganggu kesehatannya, banyak yang wafat disana, pemerintah Arab Saudi sudah lumayan dibuat agak kewalahan walau umumnya biasa tertangani dengan baik.

Kembali kepada rukun islam yang kelima adalah syaratnya mampu dalam segala hal baik secara finansial, kesehatan, waktu dan yang ditinggalkan keluarga juga dalam keadaan baik namun mampu dalam hal faktor keamanan diri juga menjadi syarat mutlak.

Kalau dalam perjalanan sangat membahayakan seumpama terjadi peperangan, jelas menjalankan haji menjadi tidak wajib apalagi dengan adanya wabah yang sangat mematikan, jelas haji tahun ini untuk tidak bisa diselenggarakan dan ini bukan baru tahun ini saja, karena dalam sejarah islam lahir, mulai dari zaman Rasulullah sampai saat ini sudah kurang lebih 40 kali tidak bisa disegarakan pengerjaan haji karena dari berbagai situasi yang membahayakan diri, baik wabah atau peperangangan, bahkan kalau tidak salah pernah 8 kali berturut-turut pada zaman fatimiah dan Abasiyah pada tahun 983 H – 991 H, tidak bisa haji, bahkan sebelumnya tahun 930 H salah satu sekte syiah menyerang Ka’bah dan mencuri Hajar Aswad, sehingga pertikaian tersebut sampai 10 tahun dan ketika Hajar Aswad kembali, baru terselenggaranya haji begitu juga wabah/thoun sampai tiga tahun berturut-turut pada tahun 1837 M.

Lagi-lagi tujuan dari tujuan syariat adalah menjaga jiwa karna mendahulukan menolak kemudaratan lebih diutamakan atas menjalankan kebaikan.

Dampaknya terjadi penumpukan antrian haji karena setiap tahun jumlah jamaah haji di Indonesia kurang lebih 200 ribu umat islam menunaikan ibadah haji, artinya tahun depan menjadi 400 ribuan dan rasanya sulit pemerintah Arab Saudi untuk menampung segitu banyaknya, mau tidak mau yang jamaah haji tahun ini diundur tahun depan, dan yang tahun depan 2021 harus mundur ke tahun 2022 karena daftar antri itu sudah sampai 10 – 20 tahuh ke depan dengan jumlah 2-4 juta jamaah haji yang antri dari kuota setiap tahunnya hanya 200 riban jamaah.

Dan Pemerintah Indonesia harus segera me-alokasikan dana haji itu untuk membuat gedung atau hotel penginapan di Saudi agar bisa menampung jamaah haji lebih dari 200 ribuan setiap tahunnya.

Untuk jamaah haji agar bersabar dengan niat yang kuat Insya Allah sudah dapat pahala haji kalau ternyata sampai wafat tidak sempat berhaji dan bisa dibatalkan pengerjaan hajinya.

Ada yang menyebut jika musim haji dan umroh tidak ada maka akan terjadi berbagai bencana karena tidak ada yang thawaf lagi. Bukan, justru umat islam banyak yang nekat tetap melaksanakan haji kalau Pemerintah Saudi tidak tutup karena kesempatan haji hanya sekali seumur hidup dan tahun depan belum tentu mereka panjang umur.

Kalau thawaf dan haji itu tiada artinya bukan karena keadaan akan tetapi sudah runtuhnya iman umat islam sehingga tidak ada lagi yang mau haji dan umroh lagi maka jelas itu sudah kiamat akan segera tiba.

Kalau musim haji tertunda terkait virus Corona itu bukan karena runtuhnya iman umat Islam. Kuatnya iman umat islam indonesia luar biasa kalau perlu mereka siap mati dalam berhaji.

InsyaAllah iman umat islam sangat kuat khususnya yang jelas membela agama islam dan ulama dari penistaan agama dan ini tentunya umat islam yang beriman terbanyak didunia karena indoneisia adalah umat islam terbesar didunia.

Akan tetapi tidak kalah banyaknya juga di Indonesia orang munafiq dan terbanyak di dunia ya di Indonesia juga, yaitu kelompok pembela penista agama, komunis, spilis, lgbt dan aliran sesat. *Red

BintangEmpat .Com

Media Investigasi Hukum Dan Kriminal, Terpercaya Dan Berimbang