Masjid Tetap Dirantai Jamaah Muhammadiyah ‘Pecah’

BintangEmpat.Com, Jawa Timur – Penutupan Masjid An-Nur, Ranting Keduwul, Desa Menongo, Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan, Dirantai dan digembok oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah Keduwul, pada 23 April 2020, malam hari, berbuntut ‘Jama’ah Pecah’.

Jamaah Muhammadiyah yang ingin masjidnya dibuka, dengan jumlah sekira 150 orang itu akhirnya mendirikan terop untuk sholat tarawih. Imam dari jamaah itu Mustari dan Abu Amar.

Suasana Ruang Rapat PDM Lamongan, dalam acara Silaturahmi, Koordinasi pelaksanaan surat Edaran PP Muhammadiyah tentang Tuntunan Ibadah Dalam Kondisi Darurat Covid-19, dan lain- lain yang urgent.

Perpecahan itu sendiri dipicu oleh rasa ketidak-adilan Pimpinan Ranting Muhammadiyah Keduwul, Pimpinan Cabang Sukodadi dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Lamongan, yang menurut jamaah, ada 13 Masjid Muhammadiyah di Kecamatan Sukodadi, yang tetap melaksanakan sholat tarawih, kenapa hanya masjid Ranting Keduwul saja yang ditutup.

Perseteruan kedua jamaah Muhammadiyah itupun dibawa ke meja Pimpinan Daerah Muhammadiyah Lamongan, pada Senin, 27 April 2020, pukul 13.00 Wib di Ruang Rapat PDM Lamongan, dalam acara Silaturahmi, Koordinasi pelaksanaan surat Edaran PP Muhammadiyah tentang Tuntunan Ibadah Dalam Kondisi Darurat Covid-19, dan lain- lain yang urgent.

Dalam rapat itu dihadiri oleh:
1. Anggota Pimpinan Daerah Muhammadiyah Lamongan
2. Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sukodadi
3. Pimpinan Ranting Muhammadiyah Keduwul- Sukodadi
4. Ta’mir Masjid Muhammadiyah An- Nur Keduwul- Sukodadi
5. Perwakilan Jama’ah Masjid Muhammadiyah An- Nur Keduwul- Sukodadi.

Diperoleh kesepakatan bahwa Masjid Muhammadiyah Ranting Keduwul, Cabang Sukodadi, Kabupaten Lamongan, tetap ditutup.

Sontak Jamaah yang di Imami Mustari dan Abu Amar tidak puas dengan hasil PDM Lamongan itu, sambil keluar ruangan rapat, Mustari kecewa.

“Pecah… Muhammadiyah Keduwul pecah”, teriak Mustari di-ikuti rombongannya, yang mayoritas ibu-ibu ini.

Lihat Youtubenya

Mustari menyesalkan sikap PDM Muhammadiyah Lamongan yang dianggap memihak, pasalnya, seluruh masjid, ada 13 Masjid Muhammadiyah di Sukodadi tetap dibuka.

“Ada apa ini, mana keadilan mu hai pemimpin, kenapa hanya Masjid Keduwul saja yang kau tutup, padahal situasi dan kondisinya sama, baik-baik saja”, ucap Mustari kesal.

Mustari pun memintan Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, untuk segera mengganti pemimpin yang tidak adil dan membiarkan jamaah terpecah belah.

“Ganti pimpinan, mereka tidak layak bagi kami”, pungkas Mustari.

Selanjutnya, pada malam hari ini, 29 April 2020, jamaah yang dipimpin Mustari dan Abu Amar ini pun mendirikan terop, untuk tetap menjalankan ibadah tarawih di halaman rumah milik H Bibit bin almarhum H Kastawi, Dusun Keduwul, Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan.

Jamaah yang hendak ikut sholat tarawih, diperiksa dengan termometer digital, cuci tangan, pakai masker dan tidak berjabat tangan, serta ada jamaah yang sakit langsung disuruh pulang.

Jamaah yang hendak ikut sholat tarawih, diperiksa dengan termometer digital, cuci tangan, pakai masker dan tidak berjabat tangan, serta ada jamaah yang sakit langsung disuruh pulang.

“Lihatlah antusias warga yang ingin berjamaah tarawih, mereka resah masjidnya dikunci dan dirantai, kita tetap tarawih dengan prosedur kesehatan dari Pemkab Lamongan”, kata Mustari.

Desas-desus di kampung mulai terdengar, katanya jamaah akan mendirikan masjid sendiri, dana 1 miliar sudah disiapkan oleh keluarga besar Bani Almarhum H Kamsi.

Diketahui Almarhum H Kamsi mempunyai 3 anak, yaitu: Almarhum H Kastawi, Hj Muawanah dan Hj Suminah. Tiga saudagar inilah yang mempunyai andil besar dalam dana pembangunan Masjid An-Nur Muhammadiyah, dan ditambah juga ada donatur lain.

Menanggapi desas-desus bakal dibuatkan masjid baru oleh keluarga besar Almarhum Bani H Kamsi, Bibit Eko Sampurna, Putra dari almarhum H Kastawi, dijawab singkat.

“Insya Allah”, ucapnya singkat sambil tersenyum. *

Tinggalkan Balasan