Cerita Pilu Dibalik Mega Proyek Glagah Arum

Caption: Lokasi proyek pembangunan

BintangEmpat.Com – Kegiatan masyarakat Desa Hutan semenjak adanya program Ijin Pemanfaatan Hutan Perhutanan Sosial (IPHPS), banyak mengalami perkembangan, dimana awalnya hanya menanam pohon tegakan, lalu memanfaatkan diantara pohon tegakan atau biasa disebut Tumpang sari.

Kini dimungkinkan masyarakat desa Hutan mengelola kawasan Hutan sebagai objek pariwisata, semisal Lembaga masyarakat Desa Hutan LMDH ” Wono lestari “, Desa Burno, Kecamatan Senduro , Kabupaten Lumajang , Jawa Timur, awalnya kawasan Hutan produksi karet dan damar ini , kini disulap menjadi objek wahana wisata keluarga ” Siti Sundari ” .

Sebut saja Karyo nama samaran, warga desa Burno , mengaku sebelum ada pendemi covid 19, dirinya bisa meraup seratus ribu rupiah per hari , dari hasil jualan kopi dan mie instan di lokasi wisata keluarga ” Siti Sundari “.

” Sebelum pendemi, hasil bersih dari jualan di Siti Sundari ini , bisa seratus ribu bahkan lebih pada saat akhir pekan ” celoteh Karyo .(21/7/2021).

Sementara lain hal dengan masyarakat sekitar kawasan Hutan Produksi Desa Kandang Tepus , Senduro. Tampak Pembangunan Mega proyek kawasan Bumi perkemahan ” GLAGAH ARUM ” Lumajang , yang nantinya dikelola Bersama Kwartir cabang gerakan Pramuka Lumajang / KWARCAB, Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan KPH Probolinggo , dan LMDH Sumber Hasil kandang Tepus ,Senduro , Lumajang .

Beberapa warga disekitar areal Proyek Bumi Perkemahan “Glagah Arum” dengan landscape +-10.5 Hektar , mengeluhkan bahwa sejak hadirnya Mega proyek ini malah , dirinya mengaku kehilangan pekerjaan yang selama ini menopang kebutuhan sehari hari keluarga nya.

Sebut saja “Amir” nama samaran, awalnya dirinya bercocok tanam dengan memanfaatkan tanaman Diantara Pohon tegakan di kawasan Hutan produksi , yang didapat dari turun temurun/Kakek Buyutnya.

” Awalnya saya tanam pakan ternak , tapi ya lihat sekarang orang orang kota telah mempunyai rencana lain,ya sudah saya harus cari pekerjaan yang lain ” ungkapnya dengan tatapan kosong, (20/7/2021).

Hal yang sama juga dialami Ruslan nama samaran , Warga asli Desa Kandang Tepus ,Dirinya pasrah ketika Lahan garapan nya diambil alih oleh pihak pengelola dengan mendirikan pagar .

“Kami orang kecil , mau gimana lagi , lagian itu kan kawasan milik Perhutani bukan milik saya”, pungkasnya.  *( WI ).

BERSAMBUNG…

BintangEmpat .Com

Media Investigasi Hukum Dan Kriminal, Terpercaya Dan Berimbang