SELAMATKAN NEGERI DARI PANDEMI

Caption: Pada 18 Agustus 2021 yang lalu, 100 Tokoh Bangsa (Pimpinan Ormas/Lembaga Masyarakat dan Tokoh Individual) bertemu secara virtual untuk merumuskan Pokok-Pokok Pikiran untuk Solusi Atasi Pandemi.

IKHTISAR POKOK-POKOK PIKIRAN 100 TOKOH BANGSA, SELAMATKAN NEGERI DARI PANDEMI.

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang

Pengantar,

Seratus Tokoh Bangsa, yang terdiri dari para pimpinan Organisasi/Lembaga Masyarakat dan
tokoh perorangan, bertemu secara virtual pada 18 Agustus 2021 yang lalu guna membahas LangkahLangkah Tepat dan Cepat sebagai solusi menyelamatkan negeri dari pandemi (Covid-19). PokokPokok Pikiran tersebut ingin disampaikan langsung kepada Pemerintah/Presiden, namun belum
berjawab. Dalam kurun waktu satu bulan ada yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah tapi masih banyak yang belum dan perlu dilaksanakan.

Berikut Ikhtisar Pokok-Pokok Pikiran dimaksud:

  1. Menyampaikan perhargaan kepada Pemerintah atas segala upaya dalam menanggulangi Pandemi
    Covid-19 yang menunjukkan banyak perkembangan dan kemajuan. Hal ini ditunjukkan oleh mulai
    menurunnya jumlah rakyat yang menjadi korban, baik terinfeksi virus maupun meninggal dunia.

  2. Memesankan kepada Pemerintah agar jangan cepat berbangga diri dan apa lagi lengah karena Pandemi Covid-19 masih mengancam (terakhir angka harian rakyat yang terinfeksi Covid-19 masih di atas 3000 orang, dan korban yang meninggalkan pun masih ada. Gelombang ketiga dengan varian baru masih menimpa beberapa negara, dan Indonesia tidak mustahil tidak terkena.

  3. Menilai hasil vaksinasi cukup tinggi tapi hal demikian tidak serta merta menciptakan “kekebalan kelompok” (herd immunity). Yang terjadi baru “herd vaccination” yang itu pun belum menjangkau mayoritas atau seluruh warga masyarakat. Selain itu, vaksinasi masih menimbulkan kontroversi khususnya mengenai jenis vaksin yang diberikan (sinovac) tidak diakui di banyak negara sehingga menghalangi warga negara untuk berpergian, termasuk umat Islam yang mau menunaikan ibadah umroh ke Tanah Suci.

  4. Memesankan kepada Pemerintah untuk tidak bersikap ambigu (ragu-ragu, tapi lebih bersungguhsungguh meletakkan penanggulangan Covid-19 sebagai prioritas utama, bukan pemberian
    stimulus ekonomi. Begitu pula, mengingatkan segenap pejabat Pemerintah untuk menunjukkan keteladanan dalam menegakkan Protokol Kesehatan, khususnya menghindari kerumunan. Akibat rendahnya keteladanan rakyat menjadi abai terhadap wasiat pejabat. Ketaksungguhan Pemerintah juga ditunjukkan oleh rendahnya alokasi anggaran Bidang Kesehatan dibandingkan dengan anggaran yang dialokasikan untuk stimulus ekonomi. Rakyat harus menanggung biaya
    Test Antigen dan Swab PCR yang mahal, padahal pelaksanaan Tracing, Testing, Treatment (Pelacakan, Pengujian, Pengobatan) adalah kewajiban dan tanggung jawab Pemerintah.

  5. Mengingatkan Pemerintah untuk menyadari dampak-dampak bawaan dari Pandemi Covid-19 ke dalam Bidang-bidang Ekonomi, Pendidikan, dan Kehidupan Beragama. Pengabaian dampakdampak itu potensial membawa kerusakan serius dalam kehidupan bangsa:

(a). Pandemi Covid-19 memang membawa dampak besar dan berat dalam perekonomian
nasional. Namun, penanggulangan masalah harus terfokus pada penyanggahan UMKM
dan sektor informal dari keruntuhah karena tenaga kerja lebih banyak pada sektor ini.
Perhatian lebih kepada BUMN dan Usaha Besar, serta Tenaga Kerja Asing, di tengah masa
pandemi selain tidak mewujudkan kesejahteraan rakyat, juga menciptakan masalah psikologis tentang ketidakadilan dan diskriminasi.

(b). Dalam Bidang Pendidikan, Pengajaran Jarak Jauh (PJJ) selama hampir dua tahun di semua
jenjang pendidikan telah menimbulkan “hilangnya pengajaran” (learning lost) yang
potensial mengakibatkan “hilangnya generasi” (generation lost). Masalah ini harus segera
diatasi dengan antara lain menyediakan dana kedaruratan (contigency fund) guna
mendukung sekolah dan siswa/mahasiswa untuk belajar dalam jaringan (online),
membantu dan memfasilitasinguru/dosen melaksanakan kewajibannya, dan menyiapkan
sekolah/perguruan tinggi untuk menanggulangi kerusakan yang telah terjadi (damage
control), serta menguatkan Sistem Managemen Belajar (Learning Management System)
di lembaga-lembaga pendidikan.

(c). Dalam Bidang Sosial dan Keagamaan, Pandemi Covid-19 telah membawa dampak serius antara lain mengendurnya kohesi sosial akibat terjadinya “pemecahan belahan
masyarakat”, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ketidakadilan hukum terkait
pelanggaran Protokol Kesehatan, diskriminasi pelayanan antara Tenaga Kerja Asing dan
rakyat sendiri, pemaksaan pemberlakuan hasil test kesehatan untuk perjalanan dan
lainnya, atau perbedaan kentara antara pencegahan kerumunan di rumah-rumah
peribadatan dan pusat-pusat keramaaian/perdagangan merupakan hal-hal yang menimbulkan “kecemburuan sosial” yang menggerus kohesi sosial.

  1. Khusus dalam Bidang Keagamaan, pembatasan sosial di tempat-tempat ibadat dengan larangan penunaian ibadat di dalamnya telah membawa dampak sistemik terhadap timbulnya permisivisme keagamaan di sementara umat beragama. Hal demikian, pada muaranya, dapat membawa peremehan dan pendangkalan pengamalan ajaran-ajaran agama, sehingga bangsa kehilangan modal budaya besar untuk bangkit dan maju.

  2. Memesankan Pemerintah, dalam melanjutkan upaya penanggulangan Pandemi Covid-19 untuk memperhatikan faktor-faktor strategis penting, antara lain:

(a). Menggalang kekuatan masyarakat madani dengan melibatkan dan bekerja sama dengan
organisasi/lembaga masyarakat sebagai subyek perubahan. Pemerintah tidak arif merasa
bisa mengatasi masalah sendiri tanpa melibatkan masyarakat. Kekuatan filantropi dalam masyarakat madani merupakan modal besar yang dapat dimanfaatkan bagi
penanggulangan pandemi.

(b). Mendayagunakan Teknologi Informatika (Information Technology atau IT) dengan
memanfaatkan kemampuan para profesional di tubuh bangsa dan Perguruan Tinggi,
sehingga keputusan Pemerintah dalam menanggulangi Pandemi Covid-19 berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, dan pendekatan Pemerintah berdasarkan data dan fakta (data driven).

  1. Atas dasar semua itu, saatnya Pemerintah dengan mengajak semua elemen masyarakat madani menyiapkan Masa Pasca Pandemi atau The New Normal Life dengan mengandalkan kekuatan sendiri, tanpa terlalu tergantung pada luar negeri.

Semoga Allah SWT membebaskan bangsa Indonesia dari marabahaya dan malapetaka.
22 September 2021.

*Sumber: Ditulis langsung oleh Prof Din Syamsuddin, kepada Redaksi BintangEmpat.Com via WhatsApp.

BintangEmpat .Com

Media Investigasi Hukum Dan Kriminal, Terpercaya Dan Berimbang