Din Syamsuddin di UAD: Wasatiyat Islam adalah Solusi

BERITA TERBARU

Din Syamsuddin di UAD: Wasatiyat Islam adalah Solusi

Wasatiyat Islam (Jalan Tengah Islam) adalah solusi terhadap kerusakan peradaban manusia dewasa ini. Demikian dinyatakan Din Syamsuddin, Ketua Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations/CDCC) pada International Symposium yang diadakan oleh Fakultas Agama Islam, Universitas Ahmad Dahlan, di Yogyakarta, 3 Desember 2022. Din Syamsuddin tampil sebagai pembicara utama, bersama Prof. Zaid Ahmad dari Universiti Putra Malaysia, dan Prof. Parjiman dari UMS, dan Dr. Habib Chirzin, Chairman of International Institute of Islamic Thought (IIIT) Indonesia di hadapan 400an Civitas Akademika di Kampus UAD. Kerusakan peradaban, baik pada tingkat global maupun nasional banyak negara, merupakan fakta yang sangat memprihatinkan. Dunia menghadapi krisis multi-dimensional, berupa krisis-krisis pangan, energi, dan lingkungan hidup, serta berbagai bentuk ketidakadilan, tindak kekerasan, dan sikap fobia antar kelompok. Pasca Covid-19 belum terwujud kondisi new normal (normal baru), karena umat manusia masih menghadapi momok berupa climate change and global warming (perubahan iklim dan pemanasan global) yang mengerikan, dan resesi ekonomi global yang berdampak sistemik pada bidang-bidang kehidupan lain.

Itu semua, menurut Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta ini, disebabkan karena Sistem Dunia (World System) berwatak sekuler-liberal, yg sejatinya menampilkan bentuk ekstrimitas. Label ekstrimisme sering hanya dikaitkan dengan agama dan dilekatkan pada kelompok agama (tertentu/Islam), padahal ideologi dunia dalam bidang ekonomi, politik, dan budaya berwatak ekstrim yg akhirnya menciptakan kerusakan akut.

Untuk itu, menurut Din Syamsuddin yang menjadi Chairman of Global Fulcrum of Wasatiyat Islam (Poros Dunia Wasatiyat Islam) yg baru diluncurkan pada 18 Nopember 2022 yg lalu, Wasatiyat Islam (atau Jalan Tengah Islam) dapat menjadi solusi. Sistem Dunia dan bentuk-bentuk derivatifnya dalam bidang ekonomi, politik, dan budaya harus ditarik ke titik tengah. Namun, menurut Din Syamsuddin, Jalan Tengah ini bukan jalan moderasi yang mengandung konotasi kompromistik dan rekonsiliasistik (dalam hal ini berlaku pola hubungan antara pihak superior dan pihak inferior). Dalam Wawasan Wasatiyat Islam ada dimensi toleransi (tasamuh), keseimbangan (tawazun), dan konsultasi (syura), tapi ada juga dimensi keadilan (i’tidal). Sering penekanan pada moderasi mengabaikan prinsip keadilan. Wawasan Wasatiyat Islam lebih dari sekedar moderasi, bahkan mencerminkan keseimbangan menyeluruh. Menurutnya. Global Fulcrum of Wasatiyat Islam akan segera aktif mengarusutamakan wawasan tersebut untuk dunia, khususnya umat Islam sedunia. (*)