Makanan MBG SMAN 1 Babat Diduga Berulat
Caption: Screenshot video
BintangEmpat.Com, Jawa Timur – Sebuah video informasi singkat yang beredar luas di media sosial memicu kegelisahan publik. Video tersebut memperlihatkan komplain siswa SMAN 1 Babat terkait menu makanan yang diterima, di mana diduga terdapat ulat di dalam makanan, Selasa (20/01/2026).
Dalam video yang beredar, siswa penerima manfaat mengeluhkan kondisi makanan yang dianggap tidak layak konsumsi. Aduan tersebut pun menjadi sorotan, mengingat program makan yang diterima melibatkan jumlah siswa yang besar dan menyangkut aspek kesehatan serta keamanan pangan.
Menindaklanjuti informasi tersebut, tim media melakukan konfirmasi langsung ke pihak SMAN 1 Babat. Saat dimintai keterangan pada Rabu (21/01/2026), perwakilan sekolah, Pak Siget, membenarkan adanya temuan tersebut. Namun, pernyataan yang disampaikan justru menuai kritik.
“Ya ada, jadi kalau dari seribu tiga ratus sembilan puluh dua itu hanya satu empreng saja ada ulat kecil, ulat kacang. Itu tidak berpengaruh karena relatif kecil saja. Jadi bagi saya tidak ada masalah, itu toleransi, enjoy saja. Beda kalau dari 1.392 itu ada 200 empreng,” ujar Pak Siget kepada media.
Pernyataan tersebut dinilai sejumlah pihak kurang sensitif terhadap keluhan siswa, serta berpotensi mengabaikan prinsip dasar higienitas makanan, terlebih konsumsi tersebut ditujukan untuk pelajar.
Di hari yang sama, media juga mengonfirmasi pihak penyedia makanan dari SPPG/MBG yang berlokasi di Jl. Surya Kencana, Perumahan Graha Rowo Permai Blok A09, Karangkembang, Babat, Lamongan, di bawah naungan Yayasan Al Barokah.
Wisnu, selaku Kepala SPPG, mengaku terkejut dengan adanya video tersebut dan menyatakan belum menerima laporan resmi dari pihak sekolah.
“Saya justru bingung, karena koordinator tidak menyampaikan apa pun ke saya. Saya belum tahu apa-apa soal ini, makanya kaget kok sudah ada video. Kalau pun harus ditanggulangi, saya bisa mengganti. Tapi dari pihak sekolah tidak ada laporan,” ungkapnya.
Wisnu juga menyampaikan bahwa kemungkinan ulat berasal dari bahan sayuran, mengingat skala produksi yang mencapai ribuan ompreng setiap hari. “Namanya juga melayani lebih dari seribuan ompreng, pengelolaan dilakukan malam hari. Tapi alhamdulillah kami sebenarnya sudah mengantisipasi,” tambahnya.
Meski demikian, muncul pertanyaan serius dari publik terkait pengawasan mutu, alur pelaporan, serta standar keamanan pangan dalam pendistribusian makanan bagi siswa. Ketidaksinkronan pernyataan antara pihak sekolah dan penyedia dinilai menunjukkan lemahnya koordinasi serta kontrol kualitas.
Kasus ini diharapkan menjadi bahan evaluasi menyeluruh bagi pihak sekolah, penyedia, maupun instansi terkait agar kejadian serupa tidak terulang. Terlebih, makanan yang dikonsumsi siswa seharusnya memenuhi standar kebersihan dan kesehatan tanpa kompromi.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Dinas Pendidikan maupun instansi pengawas pangan terkait tindak lanjut atas temuan tersebut. *Gondes

