Arsip Tag: Malapraktik

Pemerintah Bojonegoro Tutup Mata Soal Malapraktik RSUD Sosrodoro Disorot Publik

“Korban malapraktik RSUD Dr Sosrodoro Bojonegoro”

Jawa Timur – Nasib na’as dialami pemuda asal Bojonegoro, dia adalah Tities Dwi Prihantana, 23 tahun, alamat Desa Mori, Rt.07 / 02 Kec. Trucuk. Pasalnya, tangan kanannya membengkak dan kaku, akibat malapraktik RSUD Dr. Sosrodoro, Bojonegoro. Dokter yang menangani pada saat itu dokter Haryo, Poli Bedah RSUD Sosrodoro. Akibat malapraktik itu, Tities harus diberhentikan dari pekerjaannya, di Telkomsel.

Sebelumnya, peristiwa malapraktik itu terjadi pada tanggal 12 Juni 2017, ketika itu Tities ditemani Rustaka (kakak kandung), dibawa ke Puskesmas Kecamatan Trucuk, Bojonegoro, untuk periksa benjolan kecil, berdiameter +- 1,5cm di bahu sebelah kanan bagian belakang. Setelah diperiksa oleh petugas Puskesmas, lalu dibuat rujukan ke RSUD Dr. Sosodoro Bojonegoro.

Berita Terkait : Malapraktik Dokter RSUD Sosrodoro Bojonegoro

Berawal dari operasi pengambilan Uci-uci (benjolan), Tities harus mengalami penderitaan hidup hampir tiga tahun, namun sayang pemerintah dianggap lalai, pasalnya pihak RSUD Sosrodoro Bojonegoro, terkesan cuci tangan dan tidak ada rasa tanggung jawab.

Namun masih ada sebagian kecil masyarakat yang peduli terhadap penderitaan Tities, komunitas yang menamakan dirinya BOS (Bojonegoro On Smule) mendatangi rumah Tities, BOS itu sendiri dikoordinatori oleh Bang Jol, nama sapaannya.

Menurut Ban Jol, dirinya prihatin atas kasus malapraktik ini. ” Kami ikut prihatin, kami akan bantu Tities dengan penggalangan dana dari masyarakat, dengan diadakan kopi darat antar komunitas dan jalan santai, disalah satu desa di Numpak Dalem, Bojonegoro. Dan akan serta membantu mendapatkan perhatian masyarakat dan dinas terkait, ” ujar Bang Jol, (29/12/2019).

30 Tahun Idap Kusta Kapolres Jember Datangi Nenek Sumirah

Keluarga Tities menyambut baik itikad BOS. ” walau memang tidak semua bisa membantu, dengan ini bisa sedikit meringankan beban Tities dan selalu suport mental dan semangat hidup Tities, ” ujar kakak kandung Tities, Rustaka.

Malapraktik RSUD Sosrodoro Disorot Publik

Kami mencoba konfirmasi ke RSUD Dr Sosrodoro Bojonegoro, namun belum bisa dihubungi via WhatsAppnya.

*Red.

Malapraktik Dokter RSUD Sosrodoro Bojonegoro Tangan Pemuda Membesar Butuh Uluran Tangan

“Malapraktik Dokter RSUD Dr Sosrodoro Bojonegoro, terkesan lalai dan ada pembiaran”

Jawa Timur – Nasib na’as dialami pemuda asal Bojonegoro, dia adalah Tities Dwi Prihantana, 23 tahun, alamat Desa Mori, Rt.07 / 02 Kec. Trucuk. Pasalnya, tangan kanannya membengkak dan kaku, akibat malapraktik RSUD Dr. Sosrodoro, Bojonegoro. Dokter yang menangani pada saat itu dokter Haryo, Poli Bedah RSUD Sosrodoro.

Akibat malapraktik itu, Tities harus diberhentikan dari pekerjaannya, di Telkomsel.

Sebelumnya, peristiwa malapraktik itu terjadi pada tanggal 12 Juni 2017, ketika itu Tities ditemani Rustaka (kakak kandung), dibawa ke Puskesmas Kecamatan Trucuk, Bojonegoro, untuk periksa benjolan kecil, berdiameter +- 1,5cm di bahu sebelah kanan bagian belakang. Setelah diperiksa oleh petugas Puskesmas, lalu dibuat rujukan ke RSUD Dr. Sosodoro Bojonegoro, Jl. Veteran No.299, Jambean, Ngrowo, Kec. Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro.

Selanjutnya pada tanggal 13 Juni 2017, Tities bersama Rustaka ke RSUD Dr. Sosodoro Bojonegoro, dibagian Poli Bedah. Setelah dilakukan pemeriksaaan oleh Dokter Bedah , benjolan kecil tersebut dinyatakan uci-uci dan disarankan untuk operasi.

Tanggal 18 Juni 2017, pukul 17:00 WIB, ada panggilan dari RSUD Dr. Sosodoro Bojonegoro, supaya Tities datang untuk dilakukan operasi, dan malam harinya disuruh puasa, tanggal 19 Juni 2017, sekitar pukul 06:00 WIB dilakukan operasi serta rawat inap selama 3 hari.

Setelah pulang dari RSUD Dr. Sosodoro Bojonegoro, jarak seminggu terjadi pembengkakan di area sekitar bekas operasi pembedahan.

Selanjutnya Tities kontrol (berobat jalan), dan pengambilan (pencopotan) jahitan, dikasih resep obat namun kondisi masih bengkak dan keras.

“Setelah bengkak semakin melebar dan menjalar ke bagian sekitar pembedahan, saya konsultasi ulang ke dokter dan disarankan minum obat telan (dikasih resep obat lagi) katanya akan segera sembuh, ” terang Rustaka, kakak kandung Tities.

“Saya tanyakan lagi pada Dokter, ‘Kenapa bengkaknya semakin melebar dan mengeras ?’, dan Dokter menjawab, ‘itu dampak dari operasi dan nanti minum obat biar kempes’, ” ujar Rustaka menirukan.

Dua Tahun Idap Tumor Ganas Kapolres Jember Ulurkan Tangan

“Namun, bengkaknya semakin lebar dan mengeras hampir berdiameter 23cm, saya konsultasi ulang, dan Dokter menyatakan untuk operasi ulang, ” kata Rustaka.

Rustaka mulai ragu, karena dirinya tidak dikasih Catatan Saat Menjalani Operasi,
Tidak dilakukan Foto Rontgen,
Tidak ada keterangan hasil Lab Darah,
Tidak dikasih hasil bukti pembedahan atau operasi, dari pihak Rumah Sakit.

” Sampai hari raya Idhul Adha tiba, saya kontrol ulang di Poli Bedah, dokter menyatakan tidak usah Operasi Ulang dan diberi resep obat telan lagi biar sembuh, namun ada yang janggal pada saat itu, dokter malah menanyakan kepada saya, hasil operasi dan berupa jenis penyakitnya, ” ujar Rustaka ragu.

Sejak Juni 2017 sampai sekarang tanggal 24 Desember 2019, kondisi Tities tidak berubah, tangannya membesar dan kaku, bahkan untuk aktifitas, Tities mnggunakan tangan kirinya.

Menurut Rustaka, dokter Haryo sudah sering di skors. “Banyak yang inbox saya tentang salah bedah dokter mereka (Red-Rumah sakit), tapi saya belum berani korek dan ungkap lebih dalam, karena (Red-pasien) ada yang sudah meninggal, ” ujar Rustaka ketika dikonfirmasi BintangEmpat.Com.

Tidak sampai disitu, keluarga Tities mencari solusi lain. ” Karena saya tidak mendapatkan kepastian yang diharapkan, dan luka semakin membengkak lalu saya pindah berobat ke RS. AISYIYAH Bojonegoro, ” tegas Rustaka.

Akhirnya, pada bulan Januari 2018, Tities dibawa ke RS AL Dr. Ramelan, Surabaya, untuk memeriksakan pembengkakan tersebut. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh Dokter RS AL Dr. Ramelan, disarankan untuk MRI, ternyata alat MRI tidak memadai (tidak cukup muat ke area bengkak), akhirnya di rujuk ke RS. Dr. Soetomo, Surabaya.

Bulan Maret 2018, akhirnya Tities ke RS Dr. Soetomo, Surabaya, untuk  melakukan MRI di Poli Bedah Onkologi. Setelah melihat hasil MRI, Tities dialihkan ke Poli Paru.

Lihat YouTube Kami 

Tindakan Poli Paru, tes Dahak, foto Rontgen,
FNAB. Dari hasil FNAB, ditindak lanjuti di Poli TB Dot. Hasil pemeriksaaan TB Dot, dokter mendiagnosa TB Kelenjar dan harus menjalani pengobatan selama 6 bulan berlangsung tanpa putus.

Setelah menjalani pengobatan selama 6 bulan ternyata tidak membaik, namun pembengkakan semakin besar dan menjalar, lalu di FNAB ulang. Setelah di FNAB ulang, ternyata bukan TB kelenjar. Karena bukan TB kelenjar, dokter menyarankan di Poli Bedah Digestik.

Di Poli Bedah Digestik, dokter melihat hasil sebelumnya, maka melakukan diskusi dengan 4 Prof. Doctor RS DR. Soetomo, hasil diskusi menyimpulkan bahwa penyakit Tities, bukan tumor atau TB kelenjar, melainkan akibat adanya saluran getah bening bocor atau terputus pada waktu operasi pertama kali di RS .Dr. Sosrodoro, Bojonegoro.

“Karena saya terkendala dengan fasilitas dan biaya, karena kami dari rakyat kecil, maka  kami memutuskan menjalani pengobatan alternatif untuk adik kami, harta saya sudah ludes terjual, tinggal motor ini buat transportasi kerja saya, ” ujar Rustaka.

Mediasi dengan pihak RSUD Dr. Sosodoro Bojonegoro.

“Dari beberapa mediasi, mereka bersikukuh mau mengobatkan, tapi di Rumah Sakit mereka, sedangkan jika mereka mampu, tentu adek saya sudah sembuh dari  tahun kemarin, kemarin pernah seperti ini juga, disuruh berobat kita pakai BPJS saja, akhirnya terlunta-lunta, bolak-balik sana-sini, dan gak semua obat serta fasilitas menggunakan BPJS, ” keluh Rustaka.

Dirinya berharap ada kepastian hukum bagi dokter yang melakukan malapraktik, jika perlu dipidanakan. “Kami harap ada tindakan hukum bagi dokter dan rumah sakit, yang menyebabkan adik saya cacat begini, kami hanya minta adik saya di obati sampai sembuh, kami orang kecil, harta sudah ludes, masa depan adik saya gimana?, ” tutup Rustaka.

Berita ini masih sepihak, belum dikonfirmasi ke RSUD Dr Sosrodoro, Bojonegoro. Secepatnya akan kami lakukan konfirmasi ke pihak terkait. *Red