Arsip Tag: megawati

Rakernas PDI-P Prabowo Disambut Istimewa Oleh Megawati

Saat Prabowo Dapat Sambutan Meriah di Rakernas PDI-P

Rakernas PDI-P Prabowo Disambut Istimewa Oleh Megawati
Rakernas PDI-P Prabowo Disambut Istimewa Oleh Megawati

Jakarta – Menteri Pertahanan Prabowo Subianto turut menghadiri HUT Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PDI-P di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jumat (10/1/2020).

Menyentuh Hati Ibu Cacat Fisik Diumrohkan Polres Jember

Rival Presiden Joko Widodo pada pilpres 2014 dan 2019 lalu itu tampil dengan gaya khasnya, mengenakan safari putih dan peci hitam.
Kehadiran Prabowo disambut meriah oleh para kader partai banteng yang hadir. Mereka langsung berteriak dan bertepuk tangan saat Prabowo memasuki ruang acara.

Sementara Prabowo hanya tersenyum kepada para peserta Rakernas. Ketua Umum Partai Gerindra itu juga beberapa kali melambaikan tangannya.

Lihat Youtube Kami KPK OTT KPU

Sebenarnya, tak hanya Prabowo menteri kabinet kerja yang hadir dalam acara ini.
Hadir juga sejumlah menteri lain sepertiMenteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, dan Menko Polhukam Mahfud MD. Kemudian, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menristek Bambang Brodjonegoro, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, dan Menteri Kesehatan Terawan.

Ada Apa KPU di KPK?

Namun, Prabowo lah yang paling mendapat sambutan meriah. Bahkan, kehadiran Prabowo juga disambut gembira oleh Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri.
Saat memberi sambutan di podium, Megawati awalnya menyapa kepada Presiden Joko Widodo dan sejumlah mantan wakil presiden yang hadir.

Peduli Lingkungan Polri Tanamkan Edukasi Anak Usia Dini

Setelah itu, Megawati secara khusus menyapa Prabowo Subianto.
Meski dari atas panggung ia mengaku kesulitan melihat siapa saja tamu undangan yang hadir, namun ia bisa mengetahui kehadiran Prabowo saat melihat sosok bersafari putih.

Puluhan LSM Se-Kalteng Laporkan Bupati Katingan Ke Polda Kalteng

Rakernas PDI-P Prabowo Disambut Istimewa Oleh Megawati

Prabowo menjadi satu-satunya menteri kabinet kerja yang disapa Megawati.
“Itu baju putih kelihatannya itu Bapak Prabowo Subianto. Saya senang beliau hadir karena saya dengar beliau mau pergi ke luar negeri. Jadi masih mau menghadiri HUT PDI-P. Terimakasih Pak Bowo,” kata Megawati. (*).

Catatan Akhir Tahun Polres Jember

(Kompas)

Megawati Bertemu Perwakilan Partai Komunis China

 

Redaksi BintangEmpat.Com, Jakarta – Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri bertemu Kepala Polit Biro Hubungan Internasional Partai Komunis China (Head of International Department Communist Party of China) Song Tao, di Hotel Mandarin, Jakarta, Jumat (20/9/2019).

Baca Zulkifli Polisikan Amien Rais

Song Tao pagi tadi juga menemui Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan Bogor.
“Ini sebagai sebuah kelanjutan dari pertemuan sebelumnya dengan Bapak Presiden Jokowi. Maka hubungan antara partai dengan partai sebagaimana menjadi tradisi PDI Perjuangan kami kembangkan termasuk dengan CPC (Communist Party of China) ini,” ujar Sekjen PDI-P Hasto Kristianto usai pertemuan.

SOROT Pungli Di Samsat Pacitan

Hasto menambahkan, pertemuan tersebut bertujuan untuk membangun kerja sama antara PDI-P dengan Partai Komunis China di bidang diplomasi internasional.Hal tersebut juga akan membantu Pemerintah Indonesia jika nantinya berdiplomasi dengan Pemerintah China.

“Pada kesempatan itu Yang Mulia Song Tao juga mengundang Ibu Megawati Soekarnoputri untuk menghadiri pada bulan November 2019, pertemuan dengan seluruh partai politik pemerintah di Asia,” ujar Hasto.

People Power

“Jadi ada 10 partai politik yang akan diundang dan untuk berdiskusi bersama membahas tentang kerja sama strategis dan saling tukar pikiran di antara para pimpinan partai tersebut,” lanjut dia. (*)

 

 

 

 

 

 

 

*(Sumber Kompas.com).

Kongres PDIP Gerindra VVIP Demokrat Resah

Oleh: Denny Siregar*

Kongres ke 5 PDIP di Grand Inna BaliBeach berlangsung meriah..

Di sana kumpul banyak tokoh nasional, mulai dari Presiden RI Joko Widodo sampai Basuki Tjahaja Purnama. Kabarnya kongres ini akan memutuskan mengangkat kembali Megawati Soekarno Putri sebagai Ketua Umum PDIP.

Menarik ketika dalam kongres itu Prabowo Subianto kemudian hadir. Ini seperti mengingatkan kembali koalisi lama PDIP Gerindra tahun 2009 yang kemudian memutuskan Megawati dan Prabowo Subianto menjadi Capres dan Cawapres.

Tapi tunggu, ada yang tidak hadir. Siapa ? Ow, SBY ternyata.

Penasaran juga, kenapa Prabowo diundang sedangkan SBY tidak. Padahal sebelumnya Demokrat sudah memberi tanda akan merapat ke partai koalisi saat Jokowi sudah dipastikan menang Pilpres 2019.

Jawaban diplomatis tentu bahwa PDIPhanya mengundang partai koalisi saja ke acara Kongresnya. Jawaban sebenarnya adalah PDIP sebenarnya kurang suka dengan gaya SBY.

Jejak pada saat sebelum pencalonan Capres dan Cawapres 2019, SBY termasuk yang paling getol melobby Jokowi supaya AHY bisa jadi Cawapres. Tetapi Jokowi menolak. Kalau SBY mau koalisi, kursi Menteri akan disediakan untuk AHY.

Kabarnya pada waktu itu SBY sudah setuju. Mereka berjabat tangan, meski Megawati meragukan komitmen SBY. Dia sangat kenal siapa SBY. Eh, benar juga. Tidak lama habis ketemu Jokowi, SBY meluncur ketemu Prabowo dan menawarkan AHY menjadi Cawapres Prabowo.

Disini Mega dikabarkan marah besar. “Tuh kan, apa gua bilang ?? Orang ini gak bisa dipercaya !!” Sejak itu Mega tidak membolehkan Demokrat masuk koalisi. Padahal beberapa menit sebelum pengumuman KH Ma’ruf Amin sebagai Cawapres Jokowi, dikabarkan utusan SBY datang ke restoran Pelataran, tetapi Mega mengatakan, “Sekali nehi, tetap nehi !!”

Mega lebih senang dengan gaya Prabowo. Jelas dan tegas. Kawan ya kawan, lawan ya lawan. SBY gak bisa dijaga, sangat oportunis. Dan ketika Jokowi sudah jelas jadi pemenang, Demokrat pun merapat. Tentu dengan harapan AHY bisa jadi Menteri.

Itulah kenapa bagi PDIP, pintu koalisi dengan Demokrat seperti tertutup. Lagian suara Demokrat juga kecil, cuman 9,4 persen. Kurang bergengsi dibandingkan Gerindra yang 13,6 persen.

Tentu SBY sedang menonton kongres PDIP dari dalam rumah mewahnya. Mungkin beliau mengambil gitar dan mulai menyanyikan lagu Rahmat Kartolo yang fenomenal, “Patah hatiku jadinya.. Merana berputus asaa..”

Sedangkan AHY masih menunggu langkah sang bapak yang berjanji akan menjadikannya Menpora..

Seruput kopinya..

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

BACA JUGA:

Aklamasi Megawati Jabat Kembali Ketum PDIP

Kontroversi Habib Rizieq Salah Jenazah Mbah Moen Hingga Serobot Baca Doa

Prabowo Datangi Kongres PDI P Bakal Terbentuk Poros TK

Miris, Dinas Perkim Paluta KibarKan Bendera Sobek Dan Kusam

PROSESI PEMAKAMAN MBAH MOEN

 

*(Red/ tagar.id).

 

 

Aklamasi Megawati Jabat Kembali Ketum PDIP

Redaksi, Bali – Aklamasi Megawati Soekarnoputri resmi kembali menjabat sebagai ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

SOROT: Tanggapan Rocky Gerung Megawati Bakal Jabat Ketum PDIP Kembali

Penunjukan Mega sebagai pimpinan partai dilakukan secara aklamasi oleh peserta Kongres V di Denpasar, Bali pada Kamis (8/8).

VIRAL: Kontroversi Habib Rizieq Salah Jenazah Mbah Moen Hingga Serobot Baca Doa

Miris, Dinas Perkim Paluta KibarKan Bendera Sobek Dan Kusam

MAHKAMAH KONSTITUSI, ANDA MAU KEMANA?

“Saya sampaikan pandangan umum dari seluruh DPD tingkat provinsi DPC seluruh Indonesia dan DPLN kesemuanya aklamasi memohon kesediaan Megawati untuk memimpin PDIP periode 2019-2024,” kata Ketua Sidang Paripurna Surya Respationo.

Megawati dalam konferensi pers usai pengukuhan mengatakan, aklamasi dilakukan menyusul tidak diperlukannya laporan pertanggungjawaban dari DPP. Dia mengatakan, seluruh utusan menyatakan dapat diterima scara aklamasi dan segera mengetok palu.

VIRAL JUGA: Prabowo Datangi Kongres PDI P Bakal Terbentuk Poros TK

Hindari Mio Mobil Porsche Ringsek, Pengemudinya Kakek Jepang Vs Kakek Magetan

Cettar.. Bayar Pajak Kendaraan Cukup Datang Ke Indomaret

Bahasa Prancis Panglima TNI Disorot Publik

“Dengan demikian, DPP demisioner dan lalu telah dipilih karena begitulah aturanya untuk digantikan oleh sementara yang memimpin sidang,” katanya.

Megawati mengatakan, aklamasi dirinya sebagai ketua umum telah disepakati oleh 34 DPD dan 314 DPC secara nasional. Dia melanjutkan, mereka menghendaki secara aklamasi dirinya diangkat kembali sebagai Ketua Umum PDIP 2019-2024.

Pengambilan sumpah jabatan Megawati sebagai Ketua Umum PDIP periode 2019-2024 dilakukan secara tertutup di Hotel Grand Ina Beach Bali. Dalam sumpahnya, Mega berjanji akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila dan UUD 1945, AD/ART PDIP, piagam dan program perjuangan PDIP dan segala ketentuan partai yang berlaku.

BACA: Durhaka, Anak Bacok Bapaknya Dengan Parang Bertubi-tubi

Pelaku Penggelapan Ditangkap Polisi Di Kandang Sapi Sampai Terkencing-kencing

Hisap Payudara Wanita Cegah Kanker Bisa Obati Kanker

Mega juga menjamin akan menjunjung tinggi kehormatan, martabat dan disiplin partai, serta akan senantiasa mengutamakan keutuhan partai, keberhasilan program perjuangan partai daripada kepentingan pribadi. Selanjutnya, dia juga akan memegang rahasia partai yang menurut sifatnya, harus dirahasiakan.

Megawati juga akan berusaha menyelesaikan segala permasalahan partai dengan asas kekeluargaan. Dia juga berjanji akan bekerja dengan jujur, adil, rajin dan bersemangat dan mengutamakan untuk kepentingan partai, negara dan bangsa.

Sebelumnya, sejumlah Dewan Perwakilan Daerah (DPD) PDIP juga telah menyatakan dukungan mereka kepada Megawati Soekarnoputri. Deklarasi dukungan dilakukan dalam rapat kerja daerah (Rakerda) yang merupakan tindak lanjut dari rapat kerja nasional (Rakernas) di Jakarta.

“Meminta ibu ketua umum (Megawati Soekarnoputri) menjadi ketua umum kembali yang akan dikukuhkan pada kongres 8 Agustus mendatang,” kata Ketua DPD PDIP Provinsi Bengkulu Elva Hartati dalam keterangan resmi.

BACA JUGA: Polisi Ini Dipukul Istri Hingga Masuk Rumah Sakit Gara-gara Gendong Wanita Kecelakaan

Polemik Bangkai Bus TransJakarta Era Jokowi

Amien Rais: Kebijakan Jokowi Pro China, Oposisi Lebih Bermartabat

DPD Bengkuku, kata Elva, meminta agar ditetapkannya Megawati sebagai ketua umum partai dilakukan pada kongres partai di Bali pada Agustus mendatang. Dukungam serupa juga diberikan DPD PDIP Jawa Timur (Jatim).

Ketua DPD PDIP Jatim Kusnadi mengatakan, daerahnya hanya akan mencalonkan satu-satunya calon ketua umum PDIP periode 2019-2024 yakni Megawati Soekarnoputri. Namun, dia mengaku mengembalikan keputusan terkait posisi tersebut kepada Megawati.

Ketua DPD Sumatera Barat (Sumbar) Alex Indra Lukman juga mengungkapkan hal yang sama. Dia mengatakan, DPD Sumbar menginginkan Megawati Soekarnoputri Puti Reno Nilam untuk berkenan memimpin sebagai Ketua Umum PDIP.

Dukungan serupa juga dilontarkan Ketua DPD DKI Jakarta Adi Wijaya. Dia mengatakan, DKI kembali mendukung Megawati Soekarnoputri menjadi ketua umum PDIP priode 2019-2024. Dukungan yang sama juga dideklarasikan DPD PDIP di Jawa Timur (Jatim).

 

(Redaksi/ republika.co)

Prabowo Datangi Kongres PDI P Bakal Terbentuk Poros TK

 

 

Prabowo Datangi Kongres PDI P, Tampaknya Poros TK (Teuku Umar-Kertanegara) Akan Terbentuk Secara Alamiah

 

Ditulis oleh : Hendarsam Marantoko (Wakil Ketua Advokasi DPP Gerindra)

Hendarsam Marantoko
Hendarsam Marantoko

Kehangatan yang diperlihatkan oleh Ibu Megawati dan pak Jokowi kepada Pak Prabowo Subianto menyiratkan adanya semangat yang jelas dari tiga tokoh politik paling sentral di Indonesia untuk bersama-sama membangun bangsa (di dalam ataupun diluar pemerintahan)

Hendarsam: Prabowo Akan Tetap Bersama Kalian

“Poros TK” akan menular kepada grass root dan berimbas merekatnya kembali hubungan para pendukung dan memang itulah agenda besar dari ketiga tokoh tersebut untuk menjaga keutuhan NKRI.

The end.

(Hendarsam Marantoko).

Tanggapan Rocky Gerung Megawati Bakal Jabat Ketum PDIP Kembali

Redaksi, Jakarta – Rumor Megawati Soekarnoputri diisyaratkan bakal kembali menduduki kursi Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Artinya, massa kepemimpinanya sejak tahun 1999 atau selama 20 tahun akan terus berlanjut.

Pengamat politik Rocky Gerung mengkritisi unsur penamaan pada partai berlambang banteng moncong putih itu. Menurutnya, nama ‘demokrasi’ ditengah penamaan PDIP berseberangan dari kenyataan yang sesungguhnya.

BACA JUGA: Megawati Nasi Goreng Rachmawati Nasi Liwet

Setelah Pertemuan Prabowo-Megawati, TKN Dibubarkan

Pertemuan Prabowo-Megawati Potensi Ancam Partai Koalisi

PDIP tidak mencerminkan demokrasi sama sekali lantaran mempertahankan figur serupa selama 20 tahun.
“Ya nama partainya aja demokrasi. Jadi kalau nggak ada perubahan berpikir tentang konsep demokrasi, ya akan terus dengan keanehan yang sama,” ungkap Rocky Gerung di kawasan Padepokan Pencak Silat, TMII, Jakarta Timur, Jumat (2/8/2019).

SOROT: Amien Rais: Kebijakan Jokowi Pro China, Oposisi Lebih Bermartabat

Keputusan PDIP pun tidak dianggap Rocky Gerung sebagai sebuah keanehan. Sebab menurutnya, hal aneh yang diulang terus menerus dan telah menjadi kebiasaan, lambat laun akan berubah lumrah.

“Menurut saya nggak aneh itu. Kalau puluhan tahun yang aneh itu dilakukan terus, artinya tidak aneh lagi,” kata dia.

Megawati kemungkinan kembali pimpin PDIP

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, Kongres V PDIP belum bisa memastikan akan ada penambahan struktur partai seperti Wakil Ketua Umum ataupun Ketua Harian. Namun, Hasto memastikan, struktur tersebut akan dibahas khusus dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri di Kongres tersebut.

Ia juga mengisyaratakan, jika Megawati akan kembali terpilih sebagai Ketum PDIP berikutnya. “Terkait dengan struktur, tentu saja nanti ketua umum terpilih dalam hal ini adalah Ibu Megawati Soekarnoputri, karena berdasarkan hasil Rakernas IV PDIP dan juga aspirasi dari bawah, memohon ibu Megawati untuk berkenan menjadi ketua umum kembali,” ujar Hasto Kristiyanto saat jumpa pers persiapan Kongres V PDIP di kantor DPP PDI Perjuangan, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (1/8/2019).

BACA JUGA: Prabowo-Megawati Bertemu Empat Mata, Prabowo Dijamu Masakan Spesial

OKTOBER 2019 PRABOWO-SANDI DILANTIK

Secara tak langsung, peryataan Hasto itu sekaligus menegaskan bahwa Megawati Soekarnoputri akan terpilih kembali untuk periode kelima sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan. Hasto pun belum bisa menjawab kapan Megawati akan digantikan dan siapa sosok penggantinya yang dipersiapkan untuk periode selanjutnya.

Menurut Hasto, hal itu tergantung tergantung isyarat dari langit.
“Bagaimana ke depannya, partai punya cara, tetapi partai punya tradisi dalam membaca suasana kebatinan rakyat, partai juga punya tradisi dalam melihat suasana dan juga campur tangan Allah SWT terhadap kepemimpinan partai,” ungkap Hasto.

Sebagai informasi, Megawati disebut sebagai ketua umum partai terlama di Indonesia. Ia terpilih sebagai Ketua Umum PDIP sejak 1999. Semenjak itu, Megawati selalu terpilih sebagai ketua umum dalam kongres PDI Perjuangan.

Prabowo hingga JK diundang

Sekretaris PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, sejumlah tokoh akan diundang dalam acara Kongres V PDIP yang akan digelar pada 8-10 Agustus 2019 di Bali.
Hasto mengatakan, Presiden terpilih Joko Widodo akan hadir dan membuka acara Kongres V PDIP.

Selain itu, ia menyebut, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto turut diundang dalam acara tersebut.
Hal itu disampaikan Hasto saat jumpa pers persiapan Kongres V PDIP di kantor DPP PDI Perjuangan, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (1/8/2019).

“Dalam pertemuan dengan Ibu Megawati beberapa waktu lalu, Pak Prabowo menyatakan beliau akan hadir,” ujar Hasto Kristiyanto.
Hasto pun menyebut, akan ada 335 tokoh VIP dan VVIP yang turut diundang.

Sejumlah tokoh lainnya yang diundang antara lain, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Wakil Presiden terpilih Ma’ruf Amin,  jajaran menteri Kabinet Indonesia Kerja, serta tokoh-tokoh organisasi agama seperti Muhamadiyah, NU, dan KWI dan organisasi keagamaan lainnya.

Selain itu, lanjut Hasto, senior partai, pengamat politik mitra PDIP, budayawan, dan bekas menteri kabinet Gotong Royong akan diundang dalam acara tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Eriko Sotarduga mengatakan, total akan ada 2047 orang utusan partai yang akan hadir dalam Kongres V PDIP.
Rinciannya, 3 orang perwakilan struktur mulai dari ketua, bendahara dan sekretaris dari setiap Dewan Pimpinan Cabang (DPC) yang berjumlah 514 cabang. 3 orang perwakilan dari ketua, bendahara dan sekretaris setiap Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang berjumlah 34 daerah, serta sayap-sayap partai PDIP juga turut diundang.

 

(Bintangempat.com/ tribunnewa.com)

Megawati Nasi Goreng Rachmawati Nasi Liwet

Megawati Nasi Goreng Rachmawati Nasi Liwet

Megawati Nasi Goreng Rachmawati Nasi Liwet
Rachmawati Berjabat Tangan Dengan Prabowo

BintangEmpat.Com, Jakarta – Ketum Gerindra Prabowo Subianto bertemu dengan waketumnya, Rachmawati Soekarnoputri. Setelah bertemu, Rachmawati pun menyinggung bahwa tak ada nasi goreng dalam pertemuannya dengan Prabowo.

BACA: OKTOBER 2019 PRABOWO-SANDI DILANTIK

“Yang penting ini bukan nasi goreng ya, nasi liwet,” kata Rachmawati di kediamannya, Jalan Jatipadang Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (27/7/2019).

Rachmawati tak menjelaskan lebih lanjut maksud pernyataannya. Namun, seperti diketahui, menu nasi goreng sebelumnya disajikan dalam pertemuan Prabowo dengan Megawati Soekarnoputri, yang merupakan kakak Rachmawati.

BACA: Bocor Operasi Senyap Budi Gunawan Atas Perintah Jokowi

Prabowo, yang berdiri di samping Rachmawati, pun ikut menimpali. Dia mengatakan pertemuan yang berlangsung selama sekitar satu jam bersama Rachmawati itu hanya membahas berat badan.

Megawati Nasi Goreng Rachmawati Nasi Liwet

“Nggak, bahas tambah berat badan ini habis makan,” timpal Prabowo.Eks Danjen Kopassus itu mengatakan pertemuan dirinya dengan Rachmawati bukanlah hal yang spesial, mengingat putri Sukarno itu merupakan petinggi partainya. Namun Prabowo mengatakan, dalam pertemuannya tersebut, dia dan Rachmawati membahas masalah-masalah yang menarik.

BACA: KPK Bicarakan Tuntutan Hukuman Mati Bupati Kudus

“Loh beliau kan Dewan Pembina Partai Gerindra, Wakil Ketua Umum ya kita bahas masalah-masalah yang menarik aja bagi kita,” ungkap Prabowo.

 

*Redaksi

Setelah Pertemuan Prabowo-Megawati, TKN Dibubarkan

 

 

BintangEmpat.Com, Jakarta – Kekhawatiran Partai-partai koalisi yang tergabung ke Joko Widodo-Ma’ruf Amin bisa jadi terancam kursinya berkurang setelah pertemuan antara Prabowo Subianto dengan Megawati Soekarnoputri kemarin (24/7/2019).

Soalnya, pertemuan ini semakin membuka peluang Gerindra masuk ke dalam koalisi. “Jika Gerindra masuk koalisi, jatah menteri partai koalisi Jokowi bisa berkurang,” kata Direktur Eksekutif Indonesia Political Review, Ujang Komaruddin dikutip dari Tirto.


Signal kuat Partai Gerindra besutan Prabowo bisa jadi masuk ke Koalisi Jokowi-Maruf, hal itu seperti yang di-isyaratkan Wakil Ketua TKN KIK  Moeldoko.

BACA: OKTOBER 2019 PRABOWO-SANDI DILANTIK

Tim Kemenangan Nasional (TKN) Koalisi Indonesia Kerja (KIK) Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin akan dibubarkan. Wakil Ketua TKN KIK Moeldoko mengatakan, setelah bubar, partai yang sebelumnya ada di luar koalisi bisa saja bergabung untuk mendukung pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Moeldoko mengatakan acara pembubaran TKN KIK akan dibuat secara khusus. Para sekjen parpol KIK akan mempersiapkan acara tersebut.

“Karena kita akan mengakhiri TKN tanggal 24 (Juli). Nanti kami akan buat acara pembubaran TKN. Mungkin sekjen-sekjen sekarang akan membicarakan itu apa kira-kira yang akan digelar nanti,” kata Moeldoko di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (25/7/2019), dikutip dari detiknews.

Moeldoko mengatakan, setelah dibubarkan nanti, bisa saja ada partai politik yang sebelumnya berada di luar koalisi ikut bergabung mendukung pemerintah Jokowi-Ma’ruf Amin.

BACA: TNI Bakal Bentang Bendera Raksasa

“Ya bisa saja berkembang ke arah sana, karena politik ini dinamis sehingga bisa,” katanya.

Moeldoko mengatakan dirinya sempat berpikir apakah KIK akan jadi permanen. “Ternyata ya politik begitulah, maksudnya gitu, tidak ada sesuatu yang permanen, semua sangat dinamis dan selalu mencari keseimbangan baru. Nah, itu udah rumus politik seperti itu,” katanya.

Meski demikian, mantan Panglima TNI ini yakin koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin selama kampanye terbangun cukup baik. Dia pun mengatakan bisa saja koalisi yang terbangun itu kini mendapat tambahan.

“Koalisi yang terbangun cukup baik, bahkan koalisi itu bisa plus-plus, kan gitu. Jadi bukan hotel aja yang plus-plus,” katanya tersenyum.

BACA: Pertemuan Prabowo-Megawati Potensi Ancam Partai Koalisi

“Ya bisa aja koalisi yang kemarin terbangun lalu ada tambahan lagi, itu namanya plus-plus,” jelas Moeldoko soal istilah ‘plus-plus’ untuk koalisi.

Namun saat ditanya berapa besaran tambahan yang akan didapat, Moeldoko belum mau menjelaskan. “Plusnya berapa, nanti kita lihat,” katanya.

Pertemuan Prabowo-Megawati Potensi Ancam Partai Koalisi

 

BintangEmpat.Com Jakarta – Kekhawatiran Partai-partai koalisi yang tergabung ke Joko Widodo-Ma’ruf Amin bisa jadi terancam kursinya berkurang dengan pertemuan antara Prabowo Subianto dengan Megawati Soekarnoputri, siang hari ini (24/7/2019). Soalnya, pertemuan ini semakin membuka peluang Gerindra masuk ke dalam koalisi. 

BERITA TERKAIT: Prabowo-Megawati Bertemu Empat Mata, Prabowo Dijamu Masakan Spesial

“Jika Gerindra masuk koalisi, jatah menteri partai koalisi Jokowi bisa berkurang,” kata Direktur Eksekutif Indonesia Political Review, Ujang Komaruddin dikutip dari Tirto.

SOROT: Kursi Yang Kalian Rebutkan Ada Darah Segar Harun Al Rasyid

Faktanya, jumlah partai yang mesti diakomodasi atau minimal diperhatikan Jokowi tahun ini lebih banyak. Pada Pilpres 2019 paslon nomor urut 01 ini didukung 10 partai, sementara pada 2014, Jokowi yang didampingi Jusuf Kalla hanya diusung oleh koalisi ramping, yaitu: PDIP, PKB, Nasdem, Hanura, dan PKPI. Golkar, PPP, dan PAN baru bergabung belakangan. 

BACA: Kejaksaan Negeri Sampang Lemot

Apalagi jika kursi menteri berbanding lurus dengan perolehan suara di pileg. Gerindra, partainya Prabowo, hanya kalah dari PDIP sebagai pemenang pileg. Gerindra mendapat suara 17,5 juta atau setara 12,57 persen total suara. Ada kabar Gerindra mengincar kursi Kementerian BUMN dan Pertanian.

Dengan kondisi demikian, tak heran jika partai pendukung Jokowi menolak Gerindra bergabung. Penolakan terhadap Gerindra–dan partai oposisi lain seperti Demokrat dan PAN–dikemukakan PKB, Golkar, Nasdem, dan PPP, empat partai pendukung Jokowi selain PDIP yang lolos ambang batas parlemen. 

BACA JUGA: Novel Menduga ‘Mereka’ Tahu Siapa Pelakunya

Empat partai ini sudah berkali-kali meminta jatah menteri dari Jokowi, meski sampai sekarang belum jelas siapa yang akan ditunjuk sang presiden. Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, misalnya, bilang selayaknya PKB dapat jatah 10 menteri, sementara Taufiqulhadi, seorang fungsionaris Nasdem, bilang semestinya partainya dapat lebih banyak karena suara di pileg lebih besar. Golkar dan Nasdem pun serupa. Masing-masing dari mereka disebut-sebut meminta jatah empat dan dua kursi menteri. 

Ketua umum empat partai ini, Muhaimin, Airlangga Hartarto, Surya Paloh, dan Suharso Monoarfa, bertemu pada Senin (22/7/2019) lalu dan menyatakan sikap bahwa koalisi tak perlu diperlebar.

BACA: Polisi Tidak Ijinkan HUT Partai Rakyat Demokratik

Kata Sekjen Nasdem Johnny G. Plate, empat ketum partai ini satu suara agar sebaiknya “koalisi yang ada diperkuat saja.”

Pernyataan Sekretaris Bidang Pendidikan dan Pelatihan DPP PDIP Eva Kusuma Sundari semakin menegaskan kalau pertemuan empat ketum partai itu sebagai bentuk perlawanan terhadap kecenderungan bergabungnya Gerindra. Eva bilang, pertemuan itu hanya reaksi dari keresahan partai koalisi atas hak prerogatif presiden dalam memilih kabinet. 

BACA JUGA: Anies Disebut ‘Goblok’

“Mereka sudah tahu risiko atau konsekuensi dari hak prerogatif presiden,” katanya.

Selain menteri, kata Ujang, bergabungnya Gerindra juga menipiskan peluang pimpinan legislatif dipegang partai koalisi Jokowi.

Gerindra terang-terangan mengincar kursi MPR. Nama sekjen partai, Ahmad Muzani, dimunculkan sebagai kandidat. Muzani dimajukan karena dia dianggap diterima semua fraksi.

BACA: Prediksi Habib Rizieq Bakal Calon Presiden 2024

“Empat partai tersebut sedang ‘mengunci’ Gerindra sebab kursi Ketua MPR bisa saja diperebutkan dengan partai itu,” terang Ujang.

Dalam Pasal 427C ayat (1) huruf b UU Nomor 2 Tahun 2018 atau UU MD3 disebutkan bahwa pimpinan MPR dipilih dari dan oleh anggota MPR dalam satu paket. Artinya, Gerindra memang bisa mendapat kursi itu setelah disetujui koalisi. 

BACA JUGA: Tegas, Jokowi Ancam Copot Pejabat Dan Bubarkan Lembaga Penghambat

Sejauh ini Gerindra belum membuat pernyataan resmi soal posisinya di pemerintahan Jokowi.

Anggota badan komunikasi Gerindra, Andre Rosiade, mengatakan semua akan diputuskan saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) September mendatang.

“Arah koalisi Gerindra akan diambil pada September dalam Rakernas. Di situlah sikap resmi Gerindra akan diambil,” ujar Andre pertengahan Juli lalu. 

 

*Redaksi.